WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

THE GREAT DEBATE PART 1 (INDIVIDU)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 23 November 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

Great Debates: Realisme vs Liberalisme; Traditionalisme vs Positivisme

The Great Debates merupakan perdebatan yang terjadi antara paham-paham yang muncul setelah Perang Dunia I. Great Debates merupakan debat besar yang terjadi antara para pakar Hubungan Internasional mengenai teori mana yang lebih mampu menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa serta masalah global yang terjadi pada masa itu. Selain menjelaskan, para pakar juga mencoba untuk mencari solusi terbaik dalam penyelesaian sengketa internasional. Pada awal kemunculan Great Debates tersebut, para teoritikus melihat dampak yang diakibatkan oleh World War I. Berkaca pada dampak tersebut, muncullah sebuah kebutuhan akan suatu sistem politik yang mampu membawa kedamaian dan mencegah timbulnya perang.

 Hal-hal yang menyebabkan munculnya great debates dalam Hubungan Internasional tentu saja dipengaruhi oleh banyak pemikiran-pemikiran yang muncul dan berkembang. Fokus kajian yang diperdalam dalam Hubungan Internasional yang tidak hanya membahas masalah politik saja, namun juga mencakup tentang hak asasi manusia, organisasi internasional, ekonomi, dan lain-lain juga memicu timbulnya teori-teori baru. Pemikiran tersebut tentu tidak lepas dari pengaruh-pengaruh yang ada. Perang yang timbul juga memiliki peran dalam perubahan sudut pandang dalam pemikiran Hubungan Internasional yang baru dan lebih inovatif. Dilihat dari konteks sejarah, penyebabnya bisa dilihat dari banyaknya perubahan bentuk serta perkembangan kenegaraan yang berdaulat. Ada pula diskusi teoritis yang terjadi antara para penstudi Hubungan Internasional yang memunculkan banyak perdebatan besar. Kemudian pengaruh dari disiplin ilmu lain seperti filsafat, sejarah, hukum, dan lain-lain yang mengakibatkan lahirnya metode baru yang mempengaruhi Hubungan Internasional. Great Debates yang pertama muncul karena pertentangan antara paham realisme dengan liberalisme, yang kemudian dilanjutkan dengan munculnya metodologi-metodologi baru dalam Hubungan Internasional.

Konstelasi sistem internasional pada masa Great Debate memang cenderung tidak stabil, setidaknya ada beberapa paham yang mewaranai perjalanan politik internasional pada saat itu. Pada tahun 1917 paham liberalis lebih cenderung mendominasi jalannya politik internasional dalam memandang permasalahan yang terjadi di dunia internasional. Presiden Amerika Serikat pada saat itu, Woodrow Wilson, telah membawa nilai-nilai demokratis liberal ke Eropa dan ke seluruh dunia. Pada saat itu, paham  yang dibawanya dianggap ampuh dalam peredaman konflik maupun peperangan yang ada di dunia khususnya Perang Dunia I. Namun pendirian LBB (Liga Bangsa-Bangsa) melalui forum perdamaian Paris pada 1919 yang dianggap kaum liberalis sebagai suatu cara yang dapat mencegah lahirnya perang dunia terjadi kembali, ternyata meleset. Karena pada kenyataannya pada 1939 Perang Dunia meletus kembali, dan Morgenthau dengan paham realisnya yang muncul pada 1930 mulai menjadi popular dikalangan politisi dunia. Seiring dengan berjalannya waktu pandangan realis mulai mendominasi politik dunia terhitung 1930-1950an. Bukan hanya itu saja, sistem internasional juga masih dipengaruhi oleh metodologi-metodologi baru yang terus muncul seiring dengan perkembangan jaman. Namun memang, realisme dan liberalisme masih tetap mendominasi karena dianggap lebih jelas dalam memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi kala itu. 

Dalam Hubungan Internasional banyak terdapat banyak sekali perdebatan-perdebatan yang terjadi. Pandangan realis adalah salah satu teori utama dalam pengembangan studi Hubungan Internasional. Pandangan ini menjadi salah satu pandangan yang dianggap mampu menjelaskan segala peristiwa yang terjadi pada masa tersebut, terlebih lagi masalah-masalah yang bersifat global. Pemikiran realis mempunyai empat dasar pemikiran. Pemikiran pertama adalah dasar pemikiran yang dikenal sebagai pandangan pesimistis terhadap keberlangsungan hidup manusia. Pemikiran kedua melihat bahwa pola hubungan internasional pada jaman tersebut sangat berbau konflik, baik itu konflik yang bersifat regional atau bahkan global (internasional). Pemikiran ketiga berisikan mengenai penghormatan tertinggi terhadap nila-nilai keamanan nasional dan kemampuan bertahan negara. Negara dianggap memainkan peranan yang sangat signifikan dalam pola hubungan internasional pada saat tersebut, sehingga mereka menempatkan negara dalam posisi yang sangat tinggi. Dasar pemikiran terakhir adalah adanya pola skeptisisme. Skeptisisme adalah cara menyetujui sebuah hal dimana dibutuhkan bukti yang sah, konkrit dan mampu dipertanggungjawabakan. Jika tidak ada bukti, maka tidak akan diakui.

Terdapat tiga fokus utama dalam realisme. Fokus utama adalah statisme yang menjelaskan bahwa negara adalah aktor utama dalam proses Hubungan Internasional, seperti yang telah dijelaskan di atas. Negara memiki tujuan untuk menjadi aktor hegemoni yang memiliki arti bahwa negara berusaha untuk mendominasi (menjajah) negara lain. Dengan mendominasi negara lain, negara akan mempunyai power dan mampu menenmpatkan diri dalam kancah Hubungan Internasional. Statitisme juga memandang bahwa negara diharuskan memiliki kedaulatan negara. Kedaulatan menjadi penanda adanya komunitas politik dalam negara tersebut. Ditambah lagi, negara jika negara memiliki kedaulatan, maka negara tersebut secara otomatis akan memiliki kemampuan lebih dalam menunjukan eksistensi mereka. Namun fokus statisme kini banyak dipertanyakan oleh para pakar Hubungan Internasional. Dikarenakan fokus realisme sudah tidak lagi relevan dengan keadaan pada masa sekarang. Dengan perkembangan aktor-aktor non-negara, maka eksistensi negara sebagai aktor tunggal pun mulai berkurang. Negara sudah tidak menjadi aktor tunggal dan utama dalam Hubungan Internasional.    

Fokus kedua adalah survival yang memandang bahwa tujuan utama berdirinya sebuah negara adalah mempertahankan kehidupan rakyat. Dengan mempertahankan keberlangsungan kehidupan rakyat, negara harus menetapkan sikapnya sendiri atas keamanan nasional. Keamanan nasional menjadi payung untuk mempertahankan kehidupan rakyat dalam lingkup negara. Tetapi fokus survival juga tidak luput dari kritikan. Fokus survival tidak dapat memberikan batasan yang jelas. Batasan disini adalaha sejauh mana negara mempertahankan diri (bisa dilihat dalam konteks masyarakat dalam negara tersebut), kapan negara harus bersifat ofensif atau bahkan defensif.

Fokus ketiga adalah self-help. Fokus ini melihat negara tidak dapat mempercayakan keamanan negara mereka ke negara lain. Negara harus menolong diri mereka sendiri ketika terjadi konflik. Apakah konflik tersebut bersifat domestik, regional atau bahkan internasional. Jika mereka tidak mampu mempertahankan keamanan mereka sendiri, maka negara harus mampu menanggung resiko yang harus ditanggung. Resiko seperti intervensi dari negara lain, negara satu mendominasi negara lain, atau bahkan skenario terburuk, sebuah negara bisa hancur dan hilang sama sekali. Beberapa tokoh yang mengusung teori realis klasik adalah Thucydides, seorang sejarawan pada zaman Yunani Kuno. Kemudian, ada pula Machiavelli, H.J. Morgenthau, dan Thomas Hobbes. Sedangkan para tokoh realis kontemporer adalah Thomas Schelling dengan teori realisme strategis mereka, serta Kenneth Waltz.

Teori kedua adalah liberalisme. Liberalisme merupakan salah satu metode alternatif yang terkuat selain realisme. Liberalisme sejak awal sangat kontra dengan pendapat yang diutarakan oleh kaum realisme. Pertentangan yang terjadi itulah yang menyebabkan munculnya Great Debates untuk pertama kali. Para tokoh yang memimpin kemunculan liberalisme adalah Immanuel Kant dan Jeremy Bentham. Sejak abad ke-18, liberalisme telah memiliki pengaruh yang kuat dalam pengaplikasian politik internasional. Fungsinya adalah sebagai pembatas bagi kekuasaan politik politik yang terlalu sewenang-wenang. Salah seorang teoritikus kontemporer, Stanley Hoffman, pernah menulis, “International affairs have been the nemesis of liberalism. The essence of liberalism is self-restraint, moderation, compromise, and peace whereas the essence of international politics is exactly the opposite: troubled peace, at best, or the state of war” (Hoffman 1987: 396).

Liberalisme adalah ideologi dimana terpusat pada kebebasan masing-masing individu. Untuk kebanyakan penganut liberalisme, perkembangan negara sangat dibutuhkan untuk melindungi kebebasan individu dari perusakan yang dilakukan oleh individu lain dari negara lain. Tetapi negara harus selalu melayani keinginan bersama dan bukannya menjadi ‘master’. Para pemikir liberalisme jaman dahulu memberi penekanan pada struktur internasional untuk mendesak hukum internasional yang tidak sah. Saat ini, akan salah bila kita menyimpulkan bahwa perkembangan pemikiran internasional pada urusan atau interaksi internasional telah sejalan.

Pada Great Debates yang kedua, menekankan pada tradisionalisme dan positivisme. Tradisionalisme merupakan metodologi yang bersifat normatif-historis, legal-formal, filosofis, dan hasil penelitiannya bersifat subjektif. Pendekatan Tradisionalisme berasumsi bahwa fakta dan kebenaran terdapat di dalam diri manusia sendiri.

Positivisme merupakan metodologi yang memainkan peranan penting dalam Hubungan Internasional dan sebagian besar penelitian dalam disiplin ini dilaksanakan dengan menggunakan prinsip-prinsip positivis. Metodologi positivistik dalam Hubungan Internasional merupakan warisan dari pendekatan behavioural dan menggunakan asumsi-asumsi dari behaviouralisme secara lebih mutakhir. Positivisme berpendapat bahwa dunia sosial dan politik, termasuk dunia internasional memiliki pola-pola yang berulang, yang dapat dijelaskan jika kita menerapkan metodologi yang tepat. Menurut positivis penekanan pengamatan dan pengalaman adalah kunci untuk menyusun teori ilmiah mengenai penilaian-penilaian (judgments). Mereka juga mempercayai bahwa pengetahuan dapat disusun secara objektif berdasarkan pengujian secara empiris.

Apa saja yang diperdebatkan dalam Realisme dan Liberalisme? Dilihat dari pengertian masing-masing pemikiran, secara garis besar Realisme lebih mengarah pada kenyataan yang ada. Mereka menganggap bahwa sifat alami manusia adalah berusaha untuk menguasai apa saja yang mereka anggap menguntungkan. Sangat manusiawi bagi mereka untuk mencari penyelesaian suatu konflik dengan perang yang bertujuan untuk mencapai keuntungan bagi diri mereka sendiri. Namun sangat bertolak belakang dengan metodologi realisme, liberalisme lebih cinta damai. Mereka beranggapan bahwa perang adalah jalan penyelesaian yang sangat buruk bagi suatu konflik. Perang tidak dibenarkan, dan mereka memiliki keyakinan bahwa perdamaian yang abadi itu bisa ditegakkan. Liberalisme berpendapat bahwa kekuasaan politik itu sendiri merupakan produk dari ide, dan secara krusial, ide bisa berubah. Bila liberalisme berpikir bahwa setiap hal bisa dikompromikan tanpa adanya gencatan senjata, maka realisme melawan argumen mereka dengan mengatakan bahwa tidak akan ada kemajuan, hukum, dan keadilan manakala tidak adanya common power.

Perdebatan besar yang kedua terjadi antara pemikiran kaum tradisional dengan pemikiran kaum behavioral atau penganut positivisme. Setelah Perang Dunia II, disiplin akademik HI meluas dengan cepat khususnya ke Amerika (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 59). Badan-badan pemerintah dan yayasan swasta ingin mendukung penelitian HI ilmiah yang dapat mereka benarkan seperti dalam kepentingan nasional. Menurut Robert Jackson & George Sorensen (1999), hal ini dilakukan demi tercapainya perdamaian dunia dari pendekatan ilmu secara metodologis yang tepat dengan menggunakan data empiris tentang hubungan internasional. Positivisme juga berusaha mengklarifikasikan, mengukur, dan memformulasikan hukum-hukum layaknya ilmu pasti seperti fisika atau kimia tanpa memberi ruang bagi etika moral dalam teori internasional. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pemikiran kaum tradisional yang melihat sebuah hubungan internasional dari hal-hal mendasarnya seperti ketertiban, kebebasan, dan keadilan (Robert Jackson & George Sorensen, 1999 : 85). Pada akhirya tidak ada yang menang pada perdebatan ini, dan kedua metode tersebut digunakan dalam disiplin HI.

Perdebatan pertama dalam studi HI lebih menitikberatkan kepada masalah substansi atau ontologi masalah dalam studi HI, perdebatan ini terjadi sekitar tahun 1920-1940an dan melibatkan kaum realisme dan liberalisme. Perdebatan ini ahirnya dimenangkan oleh realisme, karena memang keadaan lebih berpihak kepada kaum realis. Perdebatan yang kedua terjadi antara tradisionalisme dan behavioralisme atau positivisme, perdebatan ini terjadi setelah berakhirnya perang dunia kedua sekitar tahun 1950-1970an, dan lebih menitikberatkan kepada masalah epistemologi-metodologi ilmu HI. Pada perdebatan ini, tidak ada pemenangnya karena antara tradisionalisme dan positivisme telah melakukan perpaduan sehingga munculah perdebatan ketiga, yaitu perdebatan intra-paradigma yang melibatkan neo liberalisme yang merupakan kelanjutan liberalisme tetapi tanpa idealisme, neo-realisme sebagai jawaban atas adanya neo liberalisme, adanya intervensi dari neo-marxisme dan rasionalisme (realisme liberal). Perdebatan ini terjadi sekitar paruh kedua perang dingin tahun 1980an hingga sekarang dan akhirnya mendapatkan tantangan dari fondalisme atau pos positivis, yang menurut George Sorensen disebut perdebatan keempat. Adanya perdebatan-perdebatan ini memang menjadi fondasi dalam perkembangan studi HI yang dinamis dan terus berkembang.

 

 

 Referensi :

Jackson, R., & Sorensen, G. (1999) Introduction to International Relations, Oxford University Press, [Chapter 3, 4, 5]

Goldstein, Joshua S. (2005) International Relations, Pearson/Longman, [pp. 101-111].

Baylis, John & Smith, Steve (eds.) (2001), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, [Part 2 Chaps. 7-11]

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :