WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

DINAMIKA HI SETELAH PD 1 / ERA MODERN (INDIVIDU)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 21 November 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

DINAMIKA HUBUNGAN INTERNASIONAL PADA ERA MODERN

Perjanjian Westphalia menjadi cikal bakal lahirnya tatanan dunia baru di era modern. Perjanjian Westphalia juga memainkan peranan penting dalam studi Hubungan Internasional. Banyak negara dalam tatanan global yang mendapatkan keuntungan. Salah satunya adalah negara mendapatkan kedaulatan penuh. Kemudian negara mampu mengatur bagaimana keadaan populasi penduduk, kebijakan dalam dan luar negeri mereka, kehidupan berbangsa dan bernegara mereka. Singkat kata, setelah perjanjian Westphalia penulis melihat sebuah dinamika yang benar-benar baru dan berbeda.

Meskipun Perjanjian Westphalia berisikan nilai-nilai yang menjunjung nilai-nilai independensi, namun pada kenyataannya tidak selamanya semua negara mampu mewujudkan nilai-nilai tersebut. Pertentangan antar negara-negara yang kuat pada masa tersebut, memaksa negara-negara yang lemah untuk tunduk kepada negara yang kuat. Hal ini diakibatkan negara-negara kuat mengusung semangat imperialisme. Ada perbedaan antara imperialisme dan kolonialisme. Jika kolonialisme hanya menguasai dalam bentuk fisik, imperialisme menguasai negara jajahan dalam berbagai hal. Agama, corak pemerintahan, eksploitasi sumber daya, dan lain-lain. Tetapi, pada dasarnya imperialisme hanyalah bentuk baru dari kolonialisme (Wardhani, 2012). Dan antar negara kuat, sering terjadi gesekan untuk memantapkan posisi dan keberadaan mereka. Hal ini terlihat dari munculnya Triple Alliance (Jerman, Austria-Hungaria, dan Italia) dan Triple Entente (Perancis, Inggris, dan Rusia). Keadaan menjadi semakin runyam dan parah ketika Franz Ferdinand, putra mahkota Austria, tewas ditembak oleh Gavrilo Princip, seorang ultra-nasionalis Serbia. Perang tidak bisa terelakkan lagi. Meletuslah Perang Dunia I. Perang Dunia I dimulai pada tahun 1914. Perang ini diwarnai dengan perang blok sentral yang diketuai oleh Jerman dan terdiri atas Austria, Turki dan Bulgaria melawan Blok sekutu yang diketuai Prancis. Namun pada tahun 1917, Amerika Serikut turut bergabung dengan blok sekutu dan memimpin 23 negara yang tergabung didalamnya. Perang ini memakan korban yang sangat banyak dan menyebabkan banyak negara menelan kerugian besar.

Perang Dunia I berakhir dengan kemenangan pihak Sekutu pada tahun 1918 bersamaan dengan munculnya Perjanjian Versailles. Jerman, sebagai pihak yang kalah, terpaksa mengikuti isi dari perjanjian tersebut. Dan Jerman pun menjadi pihak yang paling dirugikan dikarenakan harus mengganti rugi semua kerugian yang dialami oleh negara-negara yang berperang. Melihat kerugian yang cukup besar dan dampak perang yang begitu merusak, Woodrow Wilson (Presiden Amerika Serikat pada masa tersebut) mendirikan Liga Bangsa-Bangsa (LBB). LBB memiliki tujuan untuk mencegah terjadinya perang terulang dan menjaga perdamaian. Namun, LBB dianggap gagal dalam menjalankan tugasnya. Kegagalan ini diperparah dengan munculnya paham-paham nasionalis yang berlebihan. Fasisme oleh Musolini, pemimpin Italia dan semangat ultra-nasionalis ras Aria atas ras Yahudi di Jerman oleh Hitler adalah contoh kemunculan paham nasionalis ini. Kegagalan LBB dan munculnya paham nasionalis baru inilah yang menjadi faktor utama meletusnya Perang Dunia II.

Perang Dunia II didominasi oleh perang kekuatan blok sekutu yang melawan blok poros (Jerman, Italia, Jepang). Pemboman yang dilakukan Jepang terhadap Amerika Serikat di pangkalan Angkatan Laut Pearl Harbour menimbulkan kemarahan Amerika Serikat. Sehingga Amerika Serikat juga menyatakan perang terhadap Jepang. Kemudian perang menjalar sampai ke seluruh dunia dan memiliki dampak yang jauh lebih merusak dari Perang Dunia I. Hal ini diperparah dengan peristiwa penjatuhan Bom Atom (Fatboy dan Enola Gay) di Hiroshima dan Nagasaki. Bahkan dampak pengeboman masih terasa sampai sekarang di Jepang. Akibat bom tersebut, Jepang mengalami pukulan yang sangat telak dan memaksa mereka untuk menyerah tanpa syarat. Hal yang tidak jauh berbeda dialami oleh Jerman. Dibombardir secara habis-habisan oleh Uni Soviet, memaksa Hitler untuk bunuh diri secara tragis bersama keluarganya di sebuah Bunker di Jerman. Jerman pada akhirnya dinyatakan kalah. Perang Dunia II berakhir dan kembali dimenangkan oleh blok sekutu. Dan kemunculan Perjanjian San Diego dan Konferensi Postdam merugikan Jerman serta Jepang.

Dengan berakhirnya Perang Dunia II, masyarakat global berharap bahwa Perang akan usai. Namun, ternyata perang masih tetap berlanjut. Perang ideologi terjadi antara Amerika Serikat dengan ideologi Liberalis dan Uni Soviet dengan paham Komunisme. Hal tersebut mengakibatkan dunia terbagi menjadi daerah barat yang mengusung semangat Liberalisme dan daerah timur yang mengusung semangat komunisme. Kemunculan dua blok ini mencetuskan era Perang Dingin (The Cold War). Perang ini berlangsung pada tahun 1947 dan berakhir pada tahun 1991. Berakhirnya Perang Dingin diakibatkan oleh runtuhnya Uni Soviet pada era kepemimpinan Mikhail Gorbachev. Uni Soviet runtuh dan terpecah menjadi 15 negara bagian. Hal ini disambut dengan baik oleh Amerika Serikat yang dianggap sebagai pemenang dalam perang dan memulai normalisasi hubungan.

Perang dapat dikatakan selesai namun isu-isu lain tetap bermunculan. Peristiwa Menara Kembar World Trade Center dan Pentagon adalah salah satunya. Peristiwa yang dikenal dengan 9/11 ini menjadi bukti bahwa isu keamanan masih belum dapat terwujud dengan baik.  Bahwa ancaman atas bahaya perang masih terus mengintai. Belum lagi masalah antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza. Jika hal ini terus berlanjut, maka nyawa kaum-kaum yang tidak berdosa akan terus melayang.

Disiplin Ilmu Studi Hubungan Internasional mengalami perkembangan pesat pada era modern. Dengan penjabaran dalam tiap babak, dapat ditemukan poin-poin penting dari setiap  era mengenai perkembangan Studi Hubungan Internasional. Bagaimana peran nasionalisme dalam proses bernegara, bagaimana perang mengubah tatanan dunia global, bagaimana imperialisme mengubah arah komunikasi dunia berkaitan dengan teori realisme (Wardhani, 2012). Atau bahkan mengapa identitas sebuah negara sangatlah penting dan bagaimana negara melakukan hubungan (Dugis, 2012). Semua permasalahan ini bisa diteliti, dijabarkan  dan dijelaskan melalui studi Hubungan Internasional.   

Referensi :

Wardhani, Baiq L. S., Between World Wars and 9/11, materi disampaikan pada kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, 19 November 2012

6B, Kelompok, Dinamika Hubungan Internasional selama Perang Dunia I, Perang Dunia II dan 9/11, materi disampaikan pada tanggal 19 November 2012

9B, Kelompok, Dinamika Hubungan Internasional pada PD I – Pasca 9/11, materi disampaikan pada tanggal 19 November 2012

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :