WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

DINAMIKA HI (KELOMPOK)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 16 November 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

Perkembangannya Tatanan Dunia Internasional atas Dinamikanya dan Relevansi terhadap Studi Hubungan Internasional

 

Lahirnya Treaty Westphalia pada tahun 1648 yang mempelopori lahirnya New Era merupakan suatu titik balik perkembangan studi Ilmu Hubungan Internasional. Sebagai satu disiplin ilmu, Hubungan Internasional mengalami banyak perubahan. Tidak hanya mengakhiri perang 30 tahun, tetapi juga membentuk suatu tatanan dunia baru. Tatanan dunia inilah yang memunculkan suatu entitas negara yang berdaulat, yang bisa kita lihat hingga kini. Dengan konsep yang dimiliki oleh Perjanjian Westphalia itu sendiri, setiap negara yag berdaulat bisa dengan mudah mengatur populasi, teritorial, dan birokrasi pemerintahan tanpa ada intervensi dari pihak luar.

Dalam perkembangannya sendiri, New Era mulai dipengaruhi oleh ragam peristiwa yang terjadi di masa itu. Dimulai sejak World War I hingga peristiwa terorisme paling dahsyat yaitu serangan 9/11 di gedung WTC, Amerika Serikat. Sebelum Perang Dunia I meletus, banyak perselisihan yang terjadi di negara eropa. Banyak faktor yang melatarbelakangi terjadinya konflik antar negara eropa tersebut. Rivalitas dalam berbagai hal, pertentangan, industrialisme, imperialisme, nasionalisme, berkembangnya aliansi politik antar wilayah yang dikenal dengan Triple Alliance (Jerman, Austria-Hungaria, dan Italia) dan Triple Entente (Perancis, Inggris, dan Rusia), hingga pembunuhan pewaris tahta Austria, Franz Ferdinand dan istrinya merupakan alasan-alasan meletusnya perang di eropa pada Agustus 1914. Aktor-aktor yang terlibat dalam Perang Dunia I sendiri terdiri atas blok sentral yang diketuai oleh Jerman dan terdiri atas Austria, Turki dan Bulgaria melawan Blok sekutu yang diketuai Prancis. Namun pada tahun 1917, Amerika Serikut turut bergabung dengan blok sekutu dan mengalihkan kepemimpinan atas 23 negara yang tergabung didalamnya.

Perang Dunia I mulai berangsur berakhir sekitar tahun 1919 sejak dicanangkannya Perjanjian Versailles. Perang yang dimenangkan oleh pihak sekutu dan dengan diratifikasinya perjanjian damai tersebut menjadi pukulan yang cukup telak bagi blok sentral terutama Jerman. Apalagi, implikasi dari perjanjian tersebut dinilai cukup merugikan Jerman dengan berkurangnya wilayah serta angkatan bersenjatanya, serta jumlah kerugian yang diakibatkan  World War I yang harus ditanggungnya. Untuk mencegah terulangnya peristiwa perang, Presiden Amerika Serikut masa itu, Woodrow Wilson, mencetuskan berdirinya Liga Bangsa-bangsa untuk menciptakan perdamaian. Namun kenyataannya, gagasan tersebut tidaklah mencegah timbulnya perang baru. Munculnya paham fasisme dan chauvinisme yang diprakarsai oleh Mussolini serta Hitler menjadi kunci dimulainya Perang Dunia baru atau World War II. “The fascist conception of the state is all-embracing, outside of it no human  or spiritual values can exist, much less have value. Thus understood the fascist state is totalitarian” (Mussolini 1933, p. 3).

Pihak-pihak yang bersengketa dalam Perang Dunia II tidak terlalu banyak berubah. Masih didominasi oleh kekuatan blok sekutu yang melawan blok poros (Jerman, Italia, Jepang). Pemboman yang dilakukan Jepang terhadap Amerika Serikat di pangkalan Angkatan Laut Pearl Harbour menimbulkan kemarahan Amerika Serikat. Perang yang terjadi di hampir seluruh dunia ini menyebabkan semakin tingginya jumlah korban maupun kerugian yang ditanggung masing-masing negara yang berperang. Apalagi dengan dijatuhkannya bom atom di dua kota di Jepang, yakni Hiroshima dan Nagasaki yang dampaknya masih terasa hingga kini. Dengan serangan tersebut, Jepang akhirnya memutuskan untuk menyerah tanpa syarat, dan lagi-lagi World War II dimenangkan oleh blok sekutu. Ditambah dengan Perjanjian San Diego dan Konferensi Postdam yang juga merugikan Jerman serta Jepang.

Berakhirnya Perang Dunia bukan berarti berakhir pula perang-perang yang terjadi kala itu. Perang ideologi yang terjadi antara Amerika Serikat yang menganut Liberalisme dan Uni Soviet dengan paham komunisnya terjadi akibat timbulnya identitas sebagai negara adikuasa. Saling bersaing dalam hal teknologi, dan militer. Munculnya blok barat dan blok timur yang menyebabkan terbaginya dunia atas dua blok tersebut dan menandai Perang Dingin atau Cold War pada tahun 1947 hingga 1991.

Berakhirnya perang tersebut dikarenakan pada tahun 1985, kekuasaan Mikhail Gorbachev yang merupakan pemimpin terakhir Uni Soviet mengakibatkan negara berada dalam situasi stagnansi yang sangat parah. Masalah ekonomi dan politik yang mendalam sangat dibutuhkan untuk ditangani dan diatasi. Menyadari hal ini, Gorbachev memperkenalkan kebijakan-kebijakan yang berjenjang pada reformasi. Pada satu tingkat, ia memulai kebijakan glasnost, atau kebebasan berbicara. Pada tingkat lain, ia memulai program reformasi ekonomi yang dikenal sebagai perestroika, atau pembangunan kembali. Akibatnya masyarakat Uni Soviet menggunakan kebebasan yang baru untuk mengkritik Gorbachev atas kegagalan untuk meningkatkan perekonomian.

Desember 1991, dunia menyaksikan Uni Soviet hancur menjadi lima belas negara terpisah. Keruntuhannya dianggap oleh negara barat sebagai kemenangan atas kebebasan, kemenangan demokrasi atas totalitarianisme, dan bukti dari keunggulan kapitalisme atas sosialisme. Amerika Serikat sebagai musuh bersukacita mengakhiri Perang Dingin yang telah melayang di atas dua negara adidaya sejak akhir Perang Dunia II. Memang, pecahnya Uni Soviet mengubah situasi seluruh dunia politik, yang mengarah ke reformulasi lengkap aliansi politik, ekonomi dan militer di seluruh dunia. Perang Dingin ini telah berakhir dengan perdamaian yaitu dengan adanya kesepakatan normalisasi hubungan antara Amerika dengan Uni Soviet. Didahului dengan perjanjian mengenai persenjataan nuklir dan runtuhnya kerajaan komunis bentukan Uni Soviet serta penerimaan paham kapitalisme dalam perekonomian serta liberalisme dalam pemerintahan oleh negara-negara komunis di Eropa Timur. Dalam kata lain, berakhirnya Perang Dingin ini diartikan sebagai kemenangan bagi paham kapitalisme-liberalisme.

Perang boleh tidak berlanjut namun, isu lain yang kini marak berkembang dan terjadi hampir di semua negara adalah Tragedi 9/11. Sekitar tiga ribu nyawa lebih yang hilang akibat serangan yang diindikasikan melibatkan jaringan terorisme dunia Al-Qaeda. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 9 September 2001 dimana 4 pesawat komersial yang dikuasai pembajak berusaha menabrakkan diri ke menara kembar World Trade Center dan gedung Pentagon Amerika Serikat. Sejak itu, Amerika Serikat menyatakan perang melawan terorisme dengan menginvasi Afghanistan yang dicurigai sebagai basis dari kelompok terorisme Al-Qaeda. Dampaknya hingga kini, terorisme masih menjadi suatu momok yang menakutkan dan tantangan yang harus dihadapi oleh masing-masing negara untuk mengamankan stabilitas dan kedaulatan negaranya sendiri.

Dari setiap peristiwa yang terjadi di masa New Era, banyak sekali pengaruh yang ditimbulkan pada pada studi Hubungan Internasional sebagai diplin ilmu. Relevansinya, Hubungan Internasional mencakup hampir semua hal yang terjadi dunia internasional, baik interaksi yang terjadi antar manusia, teori maupun sistem politik. Pada masa setelah berakhirnya Perang Dunia I, kebutuhan yang paling diinginkan adalah untuk mencegah timbulnya perang baru. “The passionate desire to prevent war determined the whole initial course course and direction of the study. Like other infant sciences, the science of international politics has been markedly and frankly utopian” (Carr 1964, p. 8). Apalagi dengan kemunculan komunitas anti perang yang banyak berkembang selama Perang Dunia I membuat Hubungan Internasional semakin memperluas konteks bahasannya.

Kemudian pada masa-masa setelah World War II berlangsung, studi Hubungan Internasional itu sendiri didominasi oleh paradigma realis. Kaum realis menitik beratkan pada mereka mampu untuk berkembang diluar cara dan aturan dalam hubungan internasional secara umum. Mereka melihat bahwa cara-cara mainstream hanya dijadikan kedok  pengaplikasian cara-cara lama, namun dengan wadah yang terlihat baru. Selain itu, berakhirnya Perang Dunia II juga mengkibatkan perubahan besar sekaligus mendasar dalam tatanan politik dunia internasional. Hal ini yang mengakibatkan terjadinya penurunan kepentingan Negara-negara eropa sebagai arbiter dunia. Selain itu juga terdapat beberapa alasan mengapa imperialisme runtuh pada pertengahan abad ke-20, seperti pasca Perang Dunia II imperialisme cenderung dianggap sebagai penyebab timbulnya konflik internasional karena kolonisasi yang dilakukan oleh negara imperial terhadap negara lain dan juga imperialisme dipandang sebagai sikap yang dapat menciptakan permusuhan dalam dunia internasional.

Berakhirnya Perang Dingin secara damai ini juga mempunyai pengaruh terhadap studi Hubungan Internasional. Pertama adalah adanya interprestasi baru dalam melihat akhir dari perang yang melibatkan bangsa-bangsa di dunia. Kedua yakni munculnya jenis perang baru dalam tatananan dunia internasional beserta alasan-alasan yang mendasari terjadinya perang. Kemudian yang ketiga adalah terciptanya sistem tatanan dunia internasional yang baru dan pengaruh yang terakhir adalah munculnya isu-isu yang menjadi sorotan dalam studi HI. Di ekstrem yang berlawanan berpandangan bahwa Perang Dingin telah berkontribusi untuk menstabilkan politik internasional, yang memang telah dipupuk perdamaian panjang di tahun-tahun pasca perang, yang didefinisikan sebagai tidak adanya perang antara kekuatan mayoritas (Gaddis, 1986).

Terorisme sendiri, telah membuat banyak negara harus bekerjasama dalam memberantas terorisme. Dalam Hubungan Internasional, konteks terorisme tentulah menjadi salah satu kajian ilmu yang sangat diperhatikan. Terorisme bisa juga sebagai suatu gerakan separatis atau teror yang dilakukan pada pihak tertentu. Studi Ilmu Hubungan Internasional mempelajari tentang bagaimana mengatur strategi untuk melawan gerakan terorisme, serta bagaimana sikap kita dalam menghadapinya. Namun terorisme bukanlah satu hal yang dapat dimusnahkan dengan mudah karena ia terus menerus tumbuh dan berkembang, maka setiap negara diharapkan bisa saling membantu dan berkooperasi untuk menjaga keamanan dunia. Ini sangat dibutuhkan, sebab seperti yang kita semua sadari, terorisme tidaklah menyerang satu komunitas atau negara saja, melainkan juga hampir seluruh populasi masyarakat di dunia.

Oleh karena dinamika yang dialami oleh Hubungan Internasional sangat beragam, maka banyak pula tatanan atau cara pandang yang berubah dalam memahami suatu permasalahan. Hubungan Internasional sebagai disiplin ilmu banyak mempengaruhi perspektif kita ketika menyelesaikan sengketa global. Konteks interaksi antar masyarakat selama Perang Dunia maupun setelah serangan 9/11 sangatlah relevan. Karena dalam setiap peristiwa yang terjadi, ada kajian yang muncul, tereduksi, atau justru berkembang seiring dengan berkembangnya jaman. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk mempelajarinya karena cakupan ruang lingkup Internasional Relations yang sangat luas.

 

Referensi :

Knutsen, Torbjorn L. (1997) A History of International Relations Theory, Manchester University Press, [pp. 202-258].

Scott, Len (2001) “International History 1945-1990” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 74-91.

Crockatt, Richard (2001) “The End of the Cold War,” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 92-110.

Cox, Michael (2001) “International History,” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 111-140.

Jackson, R., & Georg Sorensen, 2005. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar [Chapter 2]

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :