WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

DINAMIKA SEJARAH HUBUNGAN INTERNASIONAL (KELOMPOK)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 10 November 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

Kelompok 8 kelas B

SOH 101

Ahmad Mubarok A. (071211232017)

Pradipta Aditya S. (071211233021)

Jessica Claudia M. (071211233027)

Anggreita Shaskia (071211233036)

 

Dinamika Sejarah Hubungan Internasional

Setiap ilmu pasti memiliki sejarah penggerak munculnya suatu disiplin ilmu tersebut. Hal-hal yang menambah atau mungkin mereduksi ilmu itu sendiri. Sama halnya dengan disiplin Ilmu Hubungan Internasional. Hubungan Internasional sejak dahulu hingga kini telah mengalami perubahan dan perkembangan. Dinamika historikal yang terjadi menyebabkan adanya suatu perbedaan yang muncul seiring dengan masing-masing peristiwa yang menyertainya. Dimulai sejak masa Yunani Kuno, Renassaince, Treaty Westphalia, munculnya dunia modern, hingga menjadi Hubungan Internasional yang banyak diperdalam saat ini. Bagaimana mulanya, dan apa saja yang terjadi di masa-masa tersebut adalah pembahasan kali ini.

Manifestasi sejarah pertama masyarakat internasional dimulai pada zaman Yunani kuno atau yang lebih dikenal dengan sebutan Hellas. The Hellenes atau kaum Hellas mempunyai pandangan bahwa mereka disatukan oleh kesamaan nenek moyang, bahasa, agama atau kepercayaan, dan cara hidup. Namun, sistem negara kaum Hellas terbagi atas city-states (negara kota) diantaranya seperti; Athena, Sparta, dan Corinth. Pada saat itu, kota-kota tersebut memiliki peran dan kedudukan setingkat negara. Hubungan antar city-states tersebut tidak memiliki satu aturan baku seperti hukum atau institusi tertentu. Namun, dengan sistem tersebutlah yang menyebabkan munculnya independensi masing-masing city-states. Hingga akhirnya sekitar abad 500 SM, kejayaan Yunani kuno runtuh dibawah kekaisaran Makedonia dan menjadi budak dari kekuasaan Romawi.

Dalam masa pemerintahan Romawi, tidak serta merta konflik yang ada hilang begitu saja. Karena sistem pemerintahan Romawi yang menjajah komunitas-komunitas yang mendiami suatu wilayah, menyebabkan masyarakatnya saat itu tidak memiliki pilihan lain kecuali tunduk, atau memberontak. Tetapi, kekuasaan itu tidak bertahan lama. Lama-kelamaan, semakin banyak daerah jajahan yang melakukan pemberontakan. Itulah yang menyebabkan kekaisaran Romawi melemah, hingga pada akhirnya runtuh akibat serangan-serangan yang dilancarkan oleh para pemberontak.

 Setelah ‘jatuhnya’ Romawi, di zaman pertengahan itu pula, kedudukan Paus sebagai pemimpin gereja dan Kaisar memiliki tingkatan yang setara. Saat itu, rakyat mengalami keambiguan atas loyalitas. Apakah mereka harus setia kepada kaisar atau pada pihak gereja. Tidak ada kemerdekaan pada masa itu. Segala kekuasaan diatur berdasarkan kekuatan agama dan politik. Oleh karenanya, mulai timbul banyak konflik, sebab pihak gereja begitu menentang pihak-pihak yang menggunakan paham selain paham geosentris seperti yang mereka anut yang menguasai hampir segala aspek kehidupan bernegara. Pada saat itu gereja mengenakan sanksi yang sangat kejam terhadap paham-paham yang bertentangan dengan gereja seperti paham heliosentris. “In the history of the world, no civilization has appeared to be more completely rural than that of the Middle Age” (Duby, 1968, p. xi). Jaman itu lebih dikenal dengan nama middle age atau dark age yang berakhir ketika masa Renaissance muncul. Renaissance yang berarti ‘lahir kembali’ dipelopori oleh F. Bacon yang melawan kebiasaan atau budaya zaman sebelumnya.

Di zaman Renaissance, arena perpolitikan semakin berkembang apalagi dengan mulai runtuhnya dominasi gereja. Evolusi feodalisme juga membawa perubahan pada beberapa area di eropa. Meskipun Renaissance pertama kali berkembang di Italy, namun lama-kelamaan ia mulai menyebar ke eropa barat. Karakteristik zaman ini kembali pada nilai-nilai di zaman Yunani kuno yang pernah hilang pada masa middle age atau dark age. Nilai-nilai itu diantaranya, kembalinya pemikiran yang bersifat konkret, realistis dan nyata, kembali memuja manusia sendiri sebagai pencipta, fokus pada dunia, kebendaan, dan nilai-nilai filosofis yang dianut dan dipengaruhi oleh kebendaan. Kembalinya nilai-nilai tadi yang mendasari berkembangnya pola hubungan interstate pada zaman ini, dimana telah terjadi perkembangan pola hubungan antar negara dalam berbagai hal, dan hal itu dikarenakan nilai-nilai yang dimunculkan oleh lahirnya zaman Reinaissance.

Tetapi, bahkan dalam masa ‘pencerahan’ tersebut tidak menutup akses atas berkembangnya konflik-konflik baru yang terjadi. Contohnya adalah Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648) yang merupakan serangkaian perang terutama di Eropa Tengah, yang melibatkan sebagian besar negara-negara Eropa. Itu adalah salah satu konflik terpanjang dan paling merusak dalam sejarah Eropa. Konsekuensi utama dari Perang Tiga Puluh Tahun adalah kehancuran seluruh daerah, tanah gundul oleh tentara yang mencari makan (Bellum seipsum Alet), kelaparan dan penyakit yang secara signifikan menurunkan populasi negara Jerman, Bohemia, dan Italia. Oleh karena perang tersebut, lahirlah Perjanjian Westphalia (1648) yang melegitimasi persemakmuran negara-negara berdaulat. Perjanjian inilah yang melatar belakangi pembentukan negara-bangsa yang ada sekarang sekaligus lahirnya studi Hubungan Internasional.

Bersamaan dengan lahirnya perjanjian Westphalia lahirlah sistem modern state dan modern world economy. Pertumbuhan Hubungan Internasional adalah bagian dari proses lahirnya sistem modern state dan modern world economy, dimana proses tersebut menggerus istitusi lama dan mengesampingkan kepercayaan tradisional tetapi tidak benar-benar merubah atau mengganti konsepsi lama dengan kemungkinan-kemungkinan baru. Hal ini menjelaskan adanya proses evolusi dari city-state dengan pola interstate menjadi nation-state dengan pola international relation. Sistem ini membawa beberapa perubahan seperti konsepsi hukum dan seperangkat sistem yang benar-benar baru. Seperangkat sistem ini secara langsung berdampak pada munculnya sovereignty terhadap negara.

“That absolute and perpetual power vested in a Commonwealth” (Bodin, 1967, p. 25). Sovereignty atau kedaulatan negara muncul setelah adanya kejelasan mengenai teritorial suatu negara. Adanya pengakuan terhadap negara yang dahulunya terjajah dan penyamarataan kedudukan atar negara. Perkembangan kedaulatan Negara (sovereignty) dari masa ke masa memang memiliki  banyak perbedaan konsep dalam memahami sovereignty. Jika kita flashback, pada masa kejayaan Yunani maupun Romawi  kuno, kedaulatan tidak dimiliki secara absolute oleh negara. Jika pada masa Yunani kuno kita mengenal adanya city-state (Negara-kota) dan pada masa Romawi sudah dikenal  sistem interstate tetapi kenyataannya pada saat itu negara tidak memiliki kedaulatan yang absolute. Pada masa modern kini negara memiliki kedaulatan penuh (sovereignty) dimana negara memiliki hak penuh untuk mengatur kepentingan dalam maupun luar negerinya. Negara juga lebih fleksibel dalam melakukan hubungan dengan negara lain. Selain itu, pada dewasa ini juga dikenal popular sovereignty (kedaulatan ditangan rakyat) yang lahir karena adanya tuntutan dari rakyat terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah (dalam hal ini kekaisaran) seperti yang melatar belakangi terjadinya revolusi Prancis 1789. Sehingga pada saat ini popular sovereignty dianut oleh kebanyakan negara-negara, karena dianggap dapat membuat masyarakat dapat berpartisipasi aktif (mass participation) dalam memajukan negaranya.

Dengan demikian dinamika yang dialami oleh International Relations, banyak mengalami perkembangan baik di awal kemunculannya hingga menjadi International Relations seperti yang saat ini kita kenal. Awal mulanya sejak zaman Yunani kuno sebagai interstate yang mengurus aspek kenegaraan saja, kemudian mulai berkembangnya hingga masa modern dengan adanya sovereignty atau kedaulatan negara yang menjadikan International Relations saat ini memiliki perspektif global dan mengurusi segala hal yang terjadi di dunia internasional.

 

Referensi :

 Carruthers, Susan L., (2001) “International History 1900-1945,” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 51-73.

Jackson, Robert & Georg Sorensen. 2009. “Pengantar Studi Hubungan Internasional” Pustaka Pelajar, Jakarta.

Jackson, Robert H., (2001) “The Evolution of International Society,” in Baylis, John & Smith, Steve (eds.), The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford University Press, pp. 35-50.

Goldstein, Joshua S. (2005) International Relations, Pearson/Longman, [pp. 24-54].

Knutsen, Torbjorn L. (1997) A History of International Relations Theory, Manchester University Press, [pp. 11-114].

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :