WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

NASIONALISME (INDIVIDU)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 07 November 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

NASIONALISME, SEBUAH PENJELASAN SINGKAT

 

Nasionalisme. Kata ini semakin sering terdengar dan tidak asing lagi di telinga orang Indonesia. Nasionalisme rupanya telah mengakar dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh warga Indonesia. Nasionalisme pun telah memainkan peran yang signifikan, lebih dari sekedar berbangsa dan bernegara, namun juga telah mencapai konteks yang lebih luas. Nasionalisme dianggap telah membawa dinamika baru dalam konteks hubungan internasional negara-negara di dunia. Maka, muncul pertanyaan yang menarik. Apakah nasionalisme itu sebenarnya? Apakah peranan dari nasionalisme itu sendiri? Apakah nasionalisme memang benar-benar membawa pengaruh positif (contoh seperti rasa pemersatu) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia?

 

Tidak ada definisi pasti mengenai nasionalisme. Namun, dapat dikatakan bahwa nasionalisme dapat dijelaskan sebagai sebuah rasa sadar anggota sebuah kelompok/komunitas akan sebuah keharusan untuk memberikan loyalitas tertinggi terhadap identitas sebuah negara. Nasionalisme sendiri dapat dilihat dalam dua buah perikop, yaitu nasionalisme sebagai sense of belonging dan nasionalisme sebagai sense of identity. Sebagai sense of belonging, nasionalisme mendorong rasa saling memiliki dalam sebuah kelompok (dalam hal ini bisa dilihat sebagai masyarakat ataupun bangsa). Rasa memiliki ini akan dilihat sebagai rasa memiliki negara yang ditinggali dalam satu kesatuan yang utuh. Maka, masyarakat atau bangsa dalam negara tersebut merasa rasa memiliki yang sama terhadap negara (Dugis,2012). Sementara dalam sense of identity, nasionalisme memberikan identitas negara. Identitas ini yang akan memberikan faktor pembeda satu negara dengan negara lain (Wardhani,2012) dalam kancah hubungan internasional. Faktor pembeda ini yang akan membawa keunikan tersendiri kepada negara, sehingga tidak ada satu negarapun di dunia ini  yang persis sama.

 

Nasionalisme memiliki peranan penting dalam konteks hubungan internasional. Nasionalisme memiliki kaitan dengan power sebuah negara. Power adalah kapasitas (Wardhani,2012). Kapasitas ini dianggap sebagai modal vital sebuah negara untuk mencapai tujuan negara. Tujuan negara adalah tercapainya stabilitas nasional yang kuat. Sehingga, setelah negara mampu mencapai stabilitas nasional yang kuat, power sebuah negara akan keluar dan muncul sebagai kekuatan nasional. Kekuatan nasional ini akan memberikan kemampuan kepada negara untuk mendapatkan posisi dalam kancah hubungan internasional. Inilah peranan nasionalisme yang pertama. Nasionalisme akan menggerakkan seluruh lapisan masyarakat untuk mampu memberikan loyalitas tertinggi mereka kepada negara demi tercapainya tujuan negara. Kemudian, nasionalisme juga memiliki kaitan erat dengan ideologi sebuah negara. Ideologi adalah kumpulan gagasan atau ide tentang kebaikan bersama dan bagaimana peran kebaikan bersama terhadap nilai-nilai falsafah yang menjadi pedoman hidup bangsa dan negara (Surbakti,1999). Peranan nasionalisme adalah sebagai pendorong anggota masyarakat untuk lebih mengenali nilai-nilai falsafah dan mengaplikasikan dalam seluruh aspek kehidupan, sehingga tercipta sebuah kesatuan yang padu antar lapisan masyarakat.

 

Ketika melihat nasionalisme dalam kehidupan bernegara, timbul sebuah pertanyaan baru. Apakah benar nasionalisme memang selalu membawa pengaruh positif? Apakah nasionalisme memang benar-benar mampu menjadi pemersatu berbagai macam suku bangsa di negara itu? Jawabannya, tidak. Diperlukan proses penjernihan istilah terlebih dahulu. Terdapat perbedaan mendasar antara nasionalisme dan patriotisme. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, nasionalisme memiliki batasan sebagai rasa memberikan loyalitas tertinggi kepada negara. Sehingga, akan memberikan rasa kepemilikan terhadap negara yang utuh oleh anggota kelompok (dalam hal ini bangsa). Di sinilah letak ingkoruensi nasionalisme. Nasionalisme pada dasarnya tidak memberikan rasa cinta tanah air. Sementara, patriotisme adalah sebuah rasa cinta tanah air. Inilah perbedaan utama antara nasionalisme dan patriotisme. Patriotisme lebih bersifat luas. Rasa cinta tanah air akan bertumbuh dan berkembang dengan sendirinya dan akan menjadi alat pemersatu segala macam suku bangsa dalam satu negara. Sementara, nasionalisme hanya memberikan pengaruh kepada bangsa, dalam hal ini sejalan dengan peranan untuk memberikan loyalitas tertinggi kepada negara. Letak permasalahan ini adalah pada rasa memiliki. Ternyata, rasa memiliki negara sebagai sebuah kesatuan memiliki persepsi yang berbeda-beda antar lapisan masyarakat. Ada yang telah melihat bahwa negara dan bangsa adalah sebuah kesatuan yang utuh (yang kelak akan penulis sebut dengan civic state). Namun masih ada yang melihat bahwa negara dan bangsa tetap menjadi satu kesatuan, namun tidak utuh (yang kelak akan penulis sebut dengan ethnic state). Dalam pandangan ethnic state, nasionalisme dilihat sebagai satu kesatuan yang didasarkan pada eksistensi superioritas kebangsaan suatu bangsa dengan bangsa lain. Sehingga, negara menjadi milik satu bangsa yang kuat saja. Bangsa yang lemah akan tersingkir. Inilah sisi lain dari nasionalisme. Nasionalisme bisa berdampak positif, namun pada suatu sisi bisa bermakna negatif.

  Demikian penjelasan singkat mengenai nasionalisme. Ketika melihat nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, penulis dihadapkan pada realita yang benar-benar berbeda. Nasionalisme tidak sesempurna dan seideal layaknya bayangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Memang, sebagai warga negara yang baik, masyarakat Indonesia diharapkan mampu menumbuhkan rasa nasionalisme. Tapi, rasa nasionalisme yang seperti apa? Jawabannya terletak kepada bagaimana penempatan diri dalam negara. Ketika dihadapkan pada pilihan, dibutuhkan proses pengambilan keputusan yang bijak. Pengambilan keputusan yang bijak terhadap pilihan bagaimana menempatkan diri dalam negara. Harapan utama adalah warga negara Indonesia mampu menempatkan rasa nasionalismenya dalam negara Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh. Dengan adanya rasa nasionalisme yang kuat dan tentu saja jiwa patriotisme yang tulus, bukan tidak mungkin Indonesia mampu memainkan peran yang signifikan dalam kancah hubungan internasional kelak.

.

Referensi :

Ramlan Surbakti, 1999. Memahami Ilmu Politik, Grasindo, Jakarta.

Wardhani, Baiq L. S., Nationalism, materi disampaikan pada kuliah Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, 22 Oktober 2012

1B, Kelompok, Nationalism, materi disampaikan pada tanggal 22 Oktober 2012

4B, Kelompok, The Role and Importance of Nationalism in International Relation, materi disampaikan pada tanggal 22 Oktober 2012

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :