WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

DEFINISI HI (KELOMPOK)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 21 September 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

 

PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
Kelompok 3 B
Nama Anggota:
1.      Atika Wardah           (NIM: 071211232016)
2.      Henry Cipta P.          (NIM: 071211233015)
3.      Pradipta Aditya S.    (NIM: 071211233021)
4.      Amanda Rizky Y.     (NIM: 071211233030
5.      Rizky Kurniawan      (NIM: 071211233052)
 
Semua ilmu membutuhkan definisi, baik itu definisi mengenai identitas, cakupan studi, ruang lingkup, dan lain-lain. Namun, ada beberapa ilmu yang masih berkutat dalam masalah identifikasi definisi. Ilmu Hubungan Internasional (HI) merupakan salah satu bidang studi yang masih berkutat dalam permasalahan tersebut. Sampai sekarang definisi tentang studi ilmu HI masih rancu antara satu sumber dengan sumber lainnya. Permasalahan utama dalam penjelasan sejarah ilmu hubungan internasional adalah bahwa sejarah-sejarah yang telah ada belum berhasil dalam menjelaskan bagaimana sejarah perkembangan HI sebagai disiplin beserta kajian fundamentalnya. Hal ini dikarenakan adanya kecenderungan untuk menjelaskan sejarah dari HI diambil dari konsensus (kesepakatan bersama) yang telah terkandung di dalam dimensi esensial dari perubahan kajian ilmu HI. Beberapa ahli memiliki beberapa pendapat untuk menjelaskan definisi sejarah ilmu HI. Beberapa pendapat para ahli itu antara lain, “Sampai sekarang, setelah seperempat abad, studi ilmu HI masih dilanda kebingungan, antara lain cakupan studi, metode analisis yang harus diikuti, administrasi dan pengaturan kurikulum kampus, organisasi untuk penelitian dan semua ini masih menjadi kontroversi” (Kirik 1947 : 7), Adapun pendapat tentang ilmu HI “bahwa secara singkat dan ringkas, HI memberikan hasil yang masih miskin terhadap program penelitian bahkan cenderung bertumpuk-tumpuk dan terisolasi” (Plating 1969 : 11), serta pendapat “bahwa Studi HI semakin mirip menara Babel, dipenuhi dengan berbagai macam suara yang berbeda-beda, yang pada akhirnya membuat paham-paham berubah” (Herman 1998 : 606).
Beberapa kutipan di atas menjelaskan bahwa masih terjadi perbedaan mengenai penjabaran dari para ahli tentang definisi studi HI itu sendiri. Dengan adanya perbedaan pendapat dari para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa studi HI terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Pendapat para ahli itu juga dapat menjadi referensi penting dalam bidang studi HI itu sendiri, yang saat ini terus mengalami perubahan untuk selalu berkembang.
Sejarah Perkembangan HI
Studi HI sendiri tidak begitu saja muncul ke permukaan dalam bentuk yang ada seperti saat ini, namun juga memiliki sejarah perkembangannya yang cukup panjang dan rumit. Banyak perdebatan di dalamnya yang mempertanyakan teori-teori dan praktik yang berjalan selama perkembangan HI. Beberapa berpendapat bahwa studi HI ini lebih condong ke arah bagaimana masyarakat berpikir dan cara mereka melihat dunia secara global. Akan tetapi, perdebatan-perdebatan lain mengenai apa dan bagaimana seharusnya HI dipelajari juga berlangsung sejak awal tumbuhnya HI. Ada empat perdebatan besar yang biasa disebut dengan The Great Debate yang muncul selama perkembangan HI.
Perdebatan yang pertama antara para realis dengan idealis yang berlangsung sebelum, selama, dan sesudah Perang Dunia II terjadi. Selama waktu tersebut, para idealis menghendaki minimalisasi atau pengontrolan perang yang berlangsung dengan peran HI. Sedangkan, menurut para realis, apa yang dikemukakan oleh para idealis terhadap HI terlalu ilmiah dan tidak sistematis. Perdebatan yang kedua terjadi pada 1960-an yang melibatkan para tradisionalis yang menginginkan metodologi yang lebih humanis dibandingkan keinginan modernis untuk meningkatkan disiplin HI ke tingkat yang lebih tinggi dengan metodologi yang lebih mendetail. Dalam hal ini, modernis dirasa “menang” pada perdebatannya dengan tradisionalis. Seiring dengan pesatnya globalisasi, peningkatan level studi ke arah yang lebih tinggi sangat perlu untuk direalisasikan. Pada 1970-an sampai 1980-an terjadi perdebatan selanjutnya, yaitu pertentangan perspektif antara realis, pluralis, dan marxis mengenai bagaimana proses internasional dijelaskan dan dipahami. Perdebatan yang keempat masih berhubungan dengan perdebatan yang ketiga, yaitu mengenai apa yang harus dipelajari dalam studi HI dan cara mempelajari studi tersebut (Kirik, 1947, hal. 16) . Memang, sebagai suatu disiplin yang mempelajari manusia dan fenomena-fenomenanya, HI tidak bisa dikotak-kotakkan sebagai “hitam” atau “putih”. Di antara perdebatan-perdebatan tersebut, bahkan sampai  sekarang, HI selalu menjadi sesuatu yang dinamis. HI bergerak seiring pesatnya globalisasi dari awal terbentuknya disiplin ini hingga perkembangannya yang paling akhir. Sampai perkembangannya di masa kini, HI telah menjadi studi yang mencakup interdisipliner, bahkan multidisipliner. Dengan semakin banyaknya pemikiran dan teori-teori baru yang muncul, HI bisa dikatakan sebagai studi yang meta-teoritik. Akan tetapi, semua perspektif di atas tidak akan berpengaruh besar pada kepentingan dunia secara global apabila para civitas academica atau aktor-aktor di dalamnya tidak memberikan pandangan-pandangan yang objektif dan bisa diterima di segala sektor. Hal ini dikarenakan HI tidak hanya berkutat pada persoalan studi saja, namun juga berpengaruh terhadap penyelesaian masalah-masalah dalam hubungan internasional.
Kepentingan Mempelajari HI
            Sebagai studi yang sangat berkaitan dengan globalisasi, Hubungan Internasional (HI) dilatarbelakangi oleh berbagai fenomena penting seperti Perang Dunia I dan II, serta Perang Dingin antara Blok Timur dan Blok Barat. Kejadian-kejadian itulah yang menjadi stimulan untuk pengembangan  disiplin HI terutama pada abad ke-20 (Sorensen, 1999, p. 34) . Dengan gagalnya Liga Bangsa-bangsa yang dibentuk pada 1919 dalam menjalankan fungsinya sebagai penjaga keamanan dan kedamaian dunia  yang mengakibatkan pecahnya  Perang Dunia II, disiplin HI dirasa semakin perlu untuk dipelajari. Selama berlangsungnya dan setelah berakhirnya Perang Dunia, krisis ekonomi secara besar-besaran terjadi di seluruh dunia. Efek yang didapat pasca Perang Dunia  juga memunculkan urgensi   pengembangan displin HI. Dalam hal ini, HI dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kembali konflik-konflik yang melibatkan aktor-aktor dalam hubungan internasional. Selain itu, penyelesaian persoalan yang terjadi tanpa peperangan juga menjadi ekspektasi dari HI yang pada masa abad ke 20 dijadikan media untuk mengkaji tentang mengapa perang menjadi dominasi pertama dalam hubungan internasional.
Pada masa kini, studi HI yang mampu mencakup berbagai bidang disiplin ilmu dalam kajiannya sangat diperlukan untuk mencetak calon-calon aktor hubungan internasional. Berbagai cakupan  bidang disiplin ilmu itu antara lain politik, filsafat, sejarah, ekonomi,  hukum, dll. Dikarenakan oleh luasnya cakupan itu maka studi HI diharapkan dapat  membekali  calon-calon aktor hubungan internasional dengan berbagai ilmu dan wawasan luas  yang dibutuhkan untuk melakukan interaksi global dengan kompetensi dan kualitas yang lebih baik. Dengan kualitas yang lebih baik serta dibekali oleh  berbagai disiplin  yang cukup dan wawasan yang luas, diharapkan para aktor tersebut akan mampu melakukan interaksi dengan  baik dan sesuai dengan sistem, perubahan, serta permasalahan global yang semakin kompleks. Dengan interaksi yang baik, maka berbagai kebutuhan dan kepentingan global dapat tersampaikan pula dengan lebih mudah, sehingga akan memudahkan kerjasama di antara para pelaku hubungan internasional. Selain itu, dalam penyelesaian berbagai konflik, studi HI sangat membantu agar lebih mengutamakan jalur diplomasi yang baik daripada perang yang akan memakan banyak korban dan menghabiskan lebih banyak materi . Kerjasama yang baik yang disertai dengan penyelesaian konflik yang  lebih mengutamakan jalur diplomasi merupakan faktor pendukung dalam rangka mewujudkan  dan  menjaga kedamaian  serta mempertahankan  keteraturan  tatanan global.
            Bab ini memusat kepada peningkatan pembaca untuk memahami kepentingan dari meta-teori, atau filosofi dari ilmu sosial dan perdebatan dalam HI. Diskusi mengenai penyelidikan disiplin telah membentuk sejarah dan teori saat ini. Tetapi, penyesuaian saat ini membentuk kemungkinan adanya pemahaman baru tentang HI sebagai ilmu sosial. Meskipun di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan teori mengenai bagaimana HI seharusnya dipahami, para civitas academica dalam HI hendaknya tetap aware terhadap apa yang menjadi isu-isu serta fenomena-fenomena yang terjadi dengan perspektif HI yang global.
 
Referensi
·         2005-2020 Roadmap Studi Hubungan Internasional, Jurusan Hubungan Internasional Universitas Airlangga, 2005 (chapter 2)
·         Jackson, R. & Sorensen G. (1999) Introduction to International Relations, Oxford University Press (chapter 2)
·         Schmidt, Brian C, (2002) “On the History and Historiography of International Relations,” in Walter Carlsnaes, Thomas Rissae, Beth Smmons (eds.), Handbook of International Relations, SAGE, pp. 3-22
·         Kurki, Milja & Wight, Collin (2007) “International Relations Theories, Discipline and Diversity, Oxford University Pres, pp 13-33
 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :