WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

ESENSI STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL (KELOMPOK)

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 13 September 2012
di PENGANTAR ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL GANJIL 2012/2013 - 0 komentar

Pengantar Ilmu Hubungan Internasional

Tugas Minggu 2

Kelompok 3 (B)

Anggota Kelompok:

  • Atika Wardah
  • Henry Cipta
  • Pradipta A. S.
  • Amanda R.
  • Rizky Kurniawan

Pada awalnya ide mengenai studi Hubungan Internasional muncul bersamaan dengan Perang Dunia I (1914 – 1918). Perang ini telah merenggut nyawa anak muda di dunia dengan skala kematian yang mengerikan. Ratusan, bahkan ribuan nyawa anak-anak  muda ini hilang pada saat perang. Hubungan Internasional mempunyai pandangan bahwa Perang Dunia adalah problem terbesar yang dihadapi umat manusia pada zaman tersebut. Harus ada aksi konkret yang harus segera diambil demi menjaga keutuhan umat manusia. Jika tidak, akan banyak nyawa yang akan terus melayang. Maka, fokus studi utama Hubungan Internasional pada saat itu adalah bagaimana menghentikan perang ini.

Studi Hubungan Internasional

  Terdapat kaitan yang tinggi antara studi Hubungan Internasional dengan Ilmu Sosial. Lulusan Hubungan Internasional pada zaman itu diharapkan mampu mengembangkan rasa “sosial” mereka. Mereka diharapkan mampu mengenali, menganalisa, serta menyelesaikan masalah-masalah yang ada di sekitar mereka, dalam hal ini menjaga keutuhan umat manusia. Dua puluh tahun setelah Perang Dunia berlangsung, fokus studi Hubungan Internasional juga ikut berkembang. Hubungan Internasional mulai fokus terhadadap tidak hanya Ilmu Sosial, namun juga Ilmu Politik. Hubungan Internasional mengkaji bagaimana negara-negara di dunia harus mampu berkomunikasi karena pada saat itu Perang Dunia kembali meletus, dan memakan lebih banyak nyawa. Pada saat itu para pakar Hubungan Internasional percaya bahwa cara yang paling bijak menyelesaikan perang adalah dengan komunikasi yang baik. Ditambah lagi, negara-negara yang dianggap adidaya dan adikuasa pada masa tersebut mulai menurun kekuatan dan pengaruhnya. Jerman menjadi negara yang lemah dan nyaris hancur, Inggris dan Perancis membutuhkan bantuan finansial. Maka wacana mengenai komunikasi antar negara menjadi sangat kuat. Inilah momen kelahiran hubungan internasional.

Mengilasbalikkan ke belakang pada tahun 1950 – 1960 studi Hubungan Internasional berorientasi pada pergerakan militer dan diplomasi; tata cara pembuatan perjanjian dan aliansi; serta pengembangan dan penyebaran kecakapan militer. Kemudian akhir 1990-an pasca perang dingin Hubungan Internasional tidak hanya berorientasi pada persoalan-persoalan tersebut tetapi juga memberi perhatian juga pada konflik regional dan konflik antar etnis. Dengan kata lain, studi hubungan internasional adalah studi yang bersifat dinamis dan mampu menyesuaikan perubahan-perubahan dan perkembangan yang terjadi secara global, serta mampu menjawab berbagai tantangan global yang semakin kompleks seiring berjalannya waktu.

Esensi Hubungan Internasional

Kenyataan-kenyataan yang telah disebutkan di atas itu sudah menjadi bukti bahwa suatu negara sudah pasti memerlukan interaksi serta kerjasama dengan negara-negara lain yang diantaranya adalah untuk pemenuhan kebutuhan negara tersebut dan untuk menjembatani berbagai kepentingannya. Akan tetapi, untuk melakukan kerjasama itu diperlukan interaksi yang tidak mudah dilakukan. Hal ini dikarenakan oleh berbagai perbedaan yang menjadi penghalang. Diantara perbedaan itu terdapat faktor bahasa yang mutlak dibutuhkan untuk saling memahami dalam berkomunikasi sebagai awal suatu interaksi yang memungkinkan terjadinya kerjasama antar negara dalam berbagai kepentingan  sehingga kompetensi komunikasi global benar-benar menjadi prioritas utama.

Perbedaan pandangan politik dan kebudayaan juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan agar suatu negara mampu dan berhasil dalam melakukan diplomasi. Untuk itu diperlukan suatu disiplin ilmu yang mempelajari tata cara berdiplomasi yang baik dan benar, serta mampu menginterseksikan berbagai ilmu yang diperlukan untuk berinteraksi dan bekerja sama secara global. Di sisi lain, hal ini juga dapat menjawab berbagai tantangan dari persoalan-persoalan yang semakin beragam seiring berkembangnya zaman yang mau tidak mau dapat menghilangkan sekat antar negara yang merupakan penanda kelahiran suatu globalisasi. Solusi untuk menghadapi berbagai persoalan globalisasi tersebut adalah dengan mempelajari Ilmu Hubungan Internasional agar suatu negara memiliki generasi-generasi yang mampu berdiplomasi dengan baik dan benar, agar sesuai dengan etika dan tata cara global yang memudahkan suatu negara untuk menjalin kerjasama dengan negara lain.

Hubungan internasional tidak bisa terlepas dari dalang maupun aktor-aktor yang berperan dalam interaksi-interaksi global, baik dalam kerajasama internasional maupun konflik internasional. Uniknya, di antara semua interaksi tersebut tidak akan bisa dipungkiri adanya “aktor besar” dan “aktor kecil” yang terkadang begitu mencolok jika dilihat. Coba saja lihat bagaimana Perang Dunia II berlangsung. Ada blok sekutu dan blok sentral yang masing-masing memiliki pelopor sebagai “negara pemimpin”, sedangkan anggota-anggota lainnya seoalah hanya menjadi penggalang kekuatan untuk membentengi negara pendominan. Aktor utama dalam blok sekutu adalah Uni Soviet, sedangkan Inggris, Perancis, Polandia, dan kawankawannya hanyalah “bermain” sebagai pemeran pembantu. Dalam blok sentral, Jerman, Italia, dan Jepang adalah aktor utama, sedangkan sebagai aktor figuran terdapat nama-nama seperti Hongaria, Bulgaria, Yugoslavia, Bosnia, dan masih banyak lagi.

Aktor-aktor hubungan internasional pada umumnya meliputi individu, organisasi, multinational coorporation, serta pemerintah negara-negara dunia. Namun secara klasik aktor hubungan internasional yang paling menonjol adalah pemerintah negara-negara dunia yang selalu dipandang sebagai aktor utama dalam segala kegiatan yang berhubungan dengan interaksi global antar negara-negara di dunia.

Pemeran-pemeran dalam hubungan internasional yang telah disebutkan di atas dibagi lagi menjadi beberapa kategori berdasarkan kesamaan ciri dan kriteria. Aktor-aktor tersebut bisa dibedakan berdasarkan letak geografi (Minix & Hawley: 17). Ada dua regional utama yang menjadi poin di sini, yaitu The North dan The South. Amerika Utara, Eropa, dan beberapa negara Asia masuk ke dalam Regional The North. Sedangkan sebagian besar negara Asia dan Afrika terkelompokkan dalam Regional The South. Sesuai namanya, hal utama yang menjadi dasar pembagian di sini adalah letak geografi yang berada di belahan bumi utara dan selatan. Akan tetapi, dengan  kemiripan ras dan etnik di masing-masing regional, pembagian ini menjadi kontroversi karena diasumsikan sebagai hal yang rasial. Begitu pula dengan persoalan finansial dan power, di Regional The North lebih didominasi oleh negara-negara besar dan adidaya. Sedangkan negara-negara berkembang lebih mendominasi dalam Regional The North.

Pada era globalisasi yang menuntut segala peningkatan di berbagai aspek dalam masyarakat dunia, hubungan internasional memerlukan perubahan dari aktor-aktor di dalamnya yang berupa ekspansi dari sekedar penguasaan kompetensi politik dan sosial. Hal ini telah tercermin pada beberapa universitas yang memelajari studi hubungan internasional. Kita bisa lihat bagaimana Victoria University of Wellington di New Zealand yang telah mengembangkan interest mereka pada studi hubungan internasional yang interdisipliner. Agaknya studi hubungan internasional di Universitas Airlangga juga mengikuti jejak pendahulu mereka tersebut. Interdisipliner yang dimaksudkan di sini yaitu tidak hanya mencakup kajian politik ataupun sosial secara global saja, namun juga memasukkan studi ekonomi, keamanan, pertahanan, dan aspek-aspek lain yang sesuai dengan permasalahan global yang sedang terjadi.

Salah satu permasalahan global yang banyak kita ketahui adalah Perang Dunia. Dapat dilihat dari Perang Dunia I yang mengubah peta kekuatan dunia dengan munculnya negara-negara baru yang merupakan pecahan dari negara-negara besar sebelumnya dan Amerika muncul sebagai salah satu kekuatan besar dunia yang membentuk karakter pada abad itu. Bagi beberapa orang, Perang Dunia I dianggap tidak berguna dan terjadi sebagai sebuah aksiden. Selain itu, pada saat Perang Dunia II Amerika beserta sekutunya kembali menjadi pemenang dan kekuatan besar dunia. Namun, seiring berkembangnya waktu dua negara adikuasa saat itu, yaitu Amerika yang berpandangan politik liberal dan Uni Soviet yang berpandangan politik komunis berlomba-lomba untuk saling menanamkan pandangan politiknya kepada negara-negara berkembang yang cenderung berkekuatan lemah. Hal inilah yang menandai mulainya Perang Dingin dan melahirkan blok barat dan blok timur. Di sinilah peran studi hubungan internasional, yaitu sebagai penengah dalam situasi-situasi di  mana para aktor saling bertikai dan berebut kekuasaan. Akan tetapi, studi hubungan internasional tidak hanya terbatas pada masalah yang berbau konflik saja. Studi ini juga menjembatani aksi-aksi perdamaian, kerjasama internasional, dan juga pengembangan kawasan secara global agar bisa bersaing dengan kawasan yang lebih maju.

 

Referensi:

  • Jill, Steans & Llyod, Pettitford, (2001) Introduction to International Relations, Perspective & Themes, Pearson, Longman [Introduction]
  • Jackson, R., & Sorensen, G. (1999) Introduction to International Relations, Oxford           University Press [Chapter 1]
  • Minix, Dean A. & Hawley, Sandra M. (1998) Global Politics, West/Wadsworth [Chapter 1]

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :