WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

POSISI PERUSAHAAN MULTINASIONAL DAN NEGARA DALAM GLOBALISASI

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 02 June 2014
di GLOBALISASI STRATEGI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

BAGAIMANA GLOBALISASI MENYANDINGKAN PERUSAHAAN MULTINASIONAL DENGAN NEGARA

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Pada dasarnya kenaikan jumlah dan kuantitas perusahaan multinasional memang tidak dapat dielakkan. Survey yang dilakukan oleh berbagai badan di dunia dapat dijadikan sebagai bahan rujukan, dimana data dari UNCTAD memberikan beberapa gambaran kasar. Di tahun 2008, telah terdapat 78.000 lebih perusahaan di dunia, kenaikan yang sangat drastic, dan tren tersebut terus naik dari tahun ke tahun. Kenaikan juga terjadi pada moda investasi, layaknya Foreign Direct Investment (FDI) ataupun dalam bentuk lain. Jumlah investasi dunia yang ditanamkan oleh perusahaan multinasional 1.3 Triliun Dolar Amerika, jumlah yang dapat  dikatakan sangat fantastis. Investasi mayoritas terdapat di negara maju, dengan jumlah 66% dan 32% ditanamkan pada wilayah negara berkembang (Wolf 2005, 232). Fenomena berkembangnya perusahaan-perusahaan multinasional di negara ternyata membawa jalur perdebatan baru, banyak pihak yang pada satu sisi menyetujui keberadaan perusahaan-perusahaan multinasional tersebut, dengan berbagai argumen yang cenderung melihat dampak positif. Terdapat pula pihak-pihak yang merasa bahwa keberadaan perusahaan-perusahaan multinasional ini hanyalah membawa kerugian, mayoritas menggunakan dampak kerusakan alam sebagai dasar argumen. Lantas, muncul pertanyaan besar, apakah keberadaan perusahaan multinasional mulai menggeser peranan negara?

 

Menjawab pertanyaan tersebut, penulis mencoba melihat keberadaan perusahaan multinasional sebagai aktor, tidak hanya sebagai sebuah entitas di internal negara saja. Keberadaan perusahaan multinasional sebagai aktor dalam hubungan internasional tentu membawa berbagai macam dampak lain. Perusahaan multinasional hadir untuk menyediakan berbagai hal yang tidak mampu dilakukan oleh negara, karena kapabilitas negara pada dasarnya juga terbatas. Perusahaan multinasional dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak dari negara, dan macam lapangan pekerjaan tersebut sangat banyak dan beragam. Dampak yang dirasakan oleh warga negara tentu adalah bagaimana kebutuhan dasar (menghidupi keluarga melalui struktur ekonomi) dapat dibantu oleh keberadaan perusahaan multinasional, “perkembangan sistem ekonomi yang berdampak internasional dan transnasionalisasi (perusahaan) mengurangi peranan negara” (Sassen 1998, 5). Postur perusahaan multinasional mulai mengurangi peranan negara, hal ini diakibatkan oleh kapabilitas negara yang terbatas, namun tidak berarti bahwa perusahaan multinasional lantas mengalahkan posisi negara sebagai aktor.

 

Adalah tujuan didirikannya perusahaan multinasional yang menjadi dasar mengapa keberadaan perusahaan tersebut di negara tidak akan pernah menggantikan peranan negara. Perusahaan multinaisonal diciptakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan akan memenuhi hasrat konsumsi masyarakat luas. Perusahaan multinasional bersaing dengan perusahaan-perusahaan multinasional lain untuk mendapatkan keuntungan dari masyarakat, seringkali proses persaingan tersebut berlangsung di dalam satu lingkup negara, ataupun lingkup antar negara. Negara memberikan wadah bagi perusahaan-perusahaan multinasional tersebut untuk mendapatkan pangsa pasar, namun di satu sisi negara memberikan regulasi yang mengikat, sehingga perusahaan-perusahaan multinasional tersebut bersaing dalam serangkaian aturan dan regulasi yang mengikat. “Perusahaan multinasional dapat memaksa (mengonstruksi) jalan pikiran konsumen, tetapi hanya negara yang memiliki kuasa kontrol atas teritori (Wolf 2005, 223). Perusahaan dapat menciptakan konstruksi pikiran bagi konsumen loyal mereka untuk setia pada jalur pemasaran yang dibawa, tetapi tetap kontrol penuh berada di tangan negara. Penulis menyetujui poin Martin Wolf pada kuasa kontrol atas teritori tersebut, karena memang kekuatan tersebut menjadi hak khusus atau privilege yang hanya dimiliki oleh negara. Perusahaan multinasional tidak dapat berbuat banyak ketika sebuah negara memebrikan ultimatum bagi warga negaranya untuk tidak bekerja pada satu perusahaan terkait, di sinilah akan terlihat bahwa postur perusahaan multinasional di era globalisasi akan menguat, namun tidak serta merta dapat menngantikan postur negara.

 

Lantas apakah keberadaan perusahaan multinasional membawa ancaman, terutama dalam kaitannya dengan keberadaan negara? Berkaca pada paragraf sebelumnya, dapat dikatakan bahwa kemungkinan terburuk hanyalah perusahaan multionasional sedikit menggeser peranan negara, tidak sampai pada tahapan mengancam atau bahkan menggulingkan peranan negara. Penulis menggunakan dasar argumen value added dan gross sale perusahaan multinasional sebagai bahan kajian. Perbedaan dapat terlihat antara value added yang merupakan rincian representasi nilai sebenarnya dari sepak terjang perusahaan, sementara gross value hanyalah nilai penjualan kotor yang didapatkan oleh perusahaan terkait. Nilai value added perusahaan General Motors hanya mencapai 42 Milyar Dolar Amerika, meskipun gross sale yang dicatatkan oleh General Motors mencapai 185 Milyar Dolar (Wolf 2005, 222). Keuntungan aktual yang didapatkan oleh perusahaan (value added) ternyata tidaklah sebesar perkiraan masyarakat umum (gross value). Dengan dasar angka tersebut, pendapatan nasional negara Denmark tiga kali lebih besar dari pendapatan General Motors.  Penulis  melihat bahwa dari perhitungan dasar ini saja terlihat bahwa kekuatan negara (dengan dasar perhitungan pendapatan) melebihi pendapan actual yang didapatkan oleh perusahaan multinasional, sehingga dari kajian sederhana ini penulis beranggapan bahwa keberadaan perusahaan multinasional tidak memberikan ancaman serius bagi keberadaan negara, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa peranan perusahaan multinasional memainkan peranan penting dalam dinamika perekonomian sebuah negara. 

 

Satu hal yang harus dipahami adalah globalisasi merubah tatanan pola relasi antara perusahaan multinasional dengan negara. Globalisasi menyandingkan perusahaan multinasional dengan negara, karena keberadaan dua aktor ini memiliki keterkaitan timbal balik. Pada dasarnya, negara mengalami rekonfigurasi de facto ketika berhadapanan dengan isu transnasionalisasi dan perpindahan penduduk (Sassen 1998, 6). Penulis hanya berfokus pada poin isu transnasionalisi pada arguen Saskia Sassen, dimana perpindahan penduduk menjadi dampak utama fenomena transnasiolisasi yang dibawa oleh globalisasi. Negara beradaptasi (seringkali dalam keadaan terpaksa) dengan perusahaan multinasional, negara akan memberikan wadah bagi perusahaan untuk semakin banyak menjaring warga negaranya untuk mendapatkan pekerjaan, yang pada gilirannya akan membawa keuntungan bagi negara yakni kenaikan pendapatan nasional negara. Di satu sisi, perusahaan multinasional tetap membutuhkan negara, layaknya kemampuan negara untuk melaksanakan fungsi kebutuhan proteksi investasi yang dimiliki perusahaan multinasional (Wolf 2005, 224). Negara memberikan sebuah wadah bagi perusahaan untuk menjalankan roda ekonomi negara, dan jaminan tersebut dijewantahkan dalam sebuah lingkungan yang ramah bagi para investor, stabilitas dalam multi bidang layaknya ekonomi dan politik menjadi harga mati yang harus disediakan oleh negara. Di sisi lain perusahaan multinasional tetap harus menjalankan etika layaknya menjaring sebanyak mungkin warga negara di negara tersebut, demi menciptakan satu badan perusahaan yang solid serta menguntungakn neagra host dengan banyaknya warga negara yang mampu dijaring untuk bekerja di perusahaan tersebut.

 

Referensi:

Sassen, Saskia. (1998). “the De Facto Transnationalizing of Immigration Policy”, dalam Globalization and Its Discontents: Essays on The New Mobility of People and Money, New York: The New Press, pp. 5-30

Wolf, Martin. 2005. “Cowed by Corporation”, dalam Why Globalization Works, New Haven: Yale Notabene, pp. 220-248

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :