WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

REDEFINISI HAK CIPTA DAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 25 May 2014
di GLOBALISASI STRATEGI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

REDEFINISI HAK CIPTA DAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Terdapat sebuah fenomena baru yang mengindikasikan adanya kecenderungan bahwa di era globalisasi saat ini aliran informasi sudah tidak dapat terbendung lagi pergerakannya. Aliran informasi yang bergerak di dunia yang terdesain sangat terkoneksi satu sama lain ini membawa sebuah dinamika baru, yakni dinamika atas kepemilikan atas kekayaan intelektual dan hak cipta. Di dunia yang sarat dengan kemunculan karya cipta, menjadi sebuah hal yang sangat sulit bagi setiap pihak untuk mencoba memroteksi hasil karya yang dibuat, karena pada dasarnya di dunia dewasa ini semua hal yang telah terkoneksi menjadi hak milik bersama. Menjadi sebuah anomali mengingat pada dasarnya setiap warga negara di dunia memiliki hak untuk mendapatkan jaminan atas hak kepemilikan individu (Drahos & Braithwite 2002, 200). Fenomena kemunculan barnag-barang kekayaan intelektual menjadi sangat mudah dan rentan untuk dibajak menjadi saksi bagaimana rapuhnya proteksi terhadap hak kekayaan intelektual di dunia dewasa ini.

 

Persebaran dunia teknologi di dalam globalisasi memunculkan fenomena kegiatan pembajakan hak intelektual tersebut. Pelanggaran-pelanggaran yang terjadi terhadap hak kekayaan intelektual di era globalisasi dapat dikatakan berangkat dari bagaimana globalisasi menyebarkan teknologi ke seluruh penjuru dunia. Berbeda dengan masa-masa ketika teknologi belum berpengaruh layaknya era-era sekarang, hak atas kepemilikan hak ciota dan karya intelektual masih dapat dikatakan bekerja dengan baik. Pada masa sebelum teknologi belum menguasai seluruh aspek kehidupan umat manusia, sangat sulit bagi seorang individu untuk menghasilkan sebuah karya yang memiliki hak cipta. Setiap produk yang dihasilkan oleh individu memiliki tingkat otentisitas yang berbeda-beda, dimana setiap produk ditakdirkan untuk memiliki perbedaan-perbedaan khas dengan produk lainnya. Memasuki era feodalisme informasi, terdapat sebuah fenomena dimana “muncul sebuah kekuasaan baru yang membawa bentuk kesenjangan dan ketidak-setaraan yang berlangsung secara terus menerus (Drahos & Braithwite 2002, 198). Globalisasi membentuk sebuah era feodalisme informasi, dimana dalam era ini teknologi dijadikan sebuah komoditas utama, dimana keberadaanya dipaksakan untuk terus bertumbuh dan berkembang, menyebar ke seluruh penjuru dunia. Perseberan ini dilakukan demi terciptanya kontrol penuh dan kekuasaan di bidang teknologi, dimana keuntungan akan didapatkan oleh beberapa pihak saja. Penulis berpendapat bahwa fenomena yang dijabarkan oleh Drahos & Braithwite tersebut benar adanya. Dunia saat ini hanyalah menjadi wadah untuk persebaran teknologi. 

 

Kekuasaan selalu membawa sebuah konsekuensi, yakni kontrol dan kendali. Kedua hal tersebut akan terlihat dari bagaimana globalisasi membawa dampak dan dinamika tersendiri dalam proses redefinisi hak cipta dan hak kekayaan intelektual. Seperti yang diketahui, pada era globalisasi saat ini, semua hal dituntut untuk dibentuk secara cepat, namun presisi dan dalam jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum. Dengan masuknya era feodalisme informasi dewasa ini, semua hal yang dibuat dan dibentuk haruslah memenuhi standar yang ditentukan. Pada era ini akan sangat sulit melihat produk-produk yang memiliki nilai kekhasan yang berbeda, karena semua produk di dunia adalah produk yang global. Hak cipta dan kekayaan intelektual tidaklah dimiliki oleh individu, tetapi dimiliki oleh segelintir pihak, sang ‘penguasa’. Individu hanya diberikan sebuah hak atas produk yang dibuat, yakni hak paten. Dampak yang terjadi berikutnya adalah masyarakat luas hanya menjadi konsumen dari semua yang ditawrkan oleh teknologi. Adanya pemberian hak individu dalam bentuk hak paten tersebut hanya memberikan stagnansi bagi individu untuk memroteksi produk yang dibuat, tidak memunculkan rasa untuk mengembangkan teknologi yang ada ke tahapan selanjutnya. “Patents are an evil that society deems necessary, not a God-given right” (LeGrain 2003, 258). Akses menuju teknologi dalam era globalisasi memang semakin terbuka lebar, namun jika ditelusuri lebih lanjut, aksesibilitas tersebut hanya didapatkan oleh pihak-pihak yang memiliki sumber daya yang mumpuni. Drahos & Braithwite (2002, 198) bahkan memberikan sebuah pernyataan bahwa globalisasi hanya membawa ketidaksetaraan. Penulis melihat adanya relevansi terhadap akses dengan teknologi, dimana memang pada dasarnya teknologi hanya membuat masyarakat menjadi penonton pasif, konsumen yang hanya bisa menikmati, tidak mampu memroduksi sesuatu. Proses kreativitas hanya berhenti pada para ‘penguasa’ yang memiliki kontrol terhadap entitas ‘pemegang hak paten’. Produk-produk buatan ‘pemegang hak paten’ diseleksi oleh para ‘penguasa’, dimana setelah diberikan penilaian apakah produk tersebut dinilai layak untuk diperjual-belikan dipasaran, masyarakat luas baru dapat mengonsumsi produk buatan hasil kerjasama para ‘pemegang hak paten’ dan ‘penguasa’ tersebut. Pola hubungan ini akan terpelihara dengan baik di era globalisasi, karena keadaan yang memaksa pola hubungan ini terus berjalan.

 

Lantas, bagaimana kiranya prospek aksesibilitas teknologi dalam globalisasi? Apakah proses akses menuju teknologi di era globalisasi bertransformasi wujud serta bentukkannya? Dapat dikatakan bahwa seiring dengan perkembangan waktu, akses terhadap teknologi akan semakin tinggi, dimana tingkat persebarannya akan meningkat seiring dengan semakin terjangkauanya teknologi saat ini. Permasalahan muncul ketika akses terhadap teknologi tersebut hanya terhenti pada tahapan tertentu, dimana akses tersebut hanya terhenti pada akses konsumsi saja. Semakin hari semakin terlihat adanya kecenderungan bahwa masyrakat luas hanya menjadi objek dari keberadaan teknologi, masyarakat hanya menjadi penikmat pasif, tanpa adanya timbal balik dengan keberadaan teknologi tersebut. Prospek aksesibilitas teknologi hanya berhenti pada proses konsumsi semata, tanpa adanya proses produksi yang mutualis, dimana proses kreativitas menjadi hak bagi segelintir pihak semata. Dibutuhkan adanya penyadaran bahwa dibutuhkan sebuah produk yang memang lahir dari cara pembuatan yang didasari oleh adanya rasa karsa yang teliti, detail dan “memiliki nilai utilitarian untuk mendapatkan hak paten” (Drahos & Braithwite 2002, 208). Produk-produk yang lahir di dunia saat ini mayoritas didominasi oleh barang-barang produksi globalisasi, dimana produk tersebut lahir dari patenisasi yang terkesan dipaksakan, dimana proses penilaian apakah barang tersebut diperlukan atau tidak menjadi tidak dipentingkan lagi. Penulis melihat adanya sebuah ketimpangan dalam proses akses menuju teknologi dengan kaitannya terhadap nilai sebuah produk. Semakin mudahnya mengakses sumber teknologi menbuat masyarakat luas hanya bertindak sebagai penikmat pasif saja, konsumen yang tidak kreatif dan cenderung hanya hedonis.

 

Ke depannya mungkin akan semakin sulit melihat adanya suatu produk yang benar-benar memiliki nilai kekhasan yang sangat berbeda-beda. Para ‘penguasa’ – korporasi besar, studio rekaman musik dan ‘para pemegang hak paten’ – para pemusik, dan pihak industri kreatif, menjadi aktor dalam rantai manufakturisasi produk globalisasi, dimana produk yang dihasilkan adalah produk yang sama antara satu dengan yang lainnya. Proses redefinisi hak cipta dan hak kekayaan intelektual menjadi sebuah fenomena yang tidak dapat dihindari, tetapi rasa optimis harus tetap selalu ada. Penulis tetapi melihat adanya harapan akan kemunculan sebuah produk yang memiliki nilai perbedaan kelak, namun hal ini akan sangat sulit untuk terwujud jika tidak ada pihak-pihak yang rela untuk setidaknya memutus mata rantai globalisasi yang tengah berjalan saat ini.

 

Referensi:

Drahos, Peter dan J. Braithwaite. 2002. “Resisting the New Inequality”, dalam Information Feudalism: Who Owns the Knowledge Economy, New York: New Press, pp. 198-209

LeGrain, Philippe.  2003. “How Global Patent Laws Harm the Poor and the Sick”, dalam Open World: the Truth about Globalisation, London: Abacus Book, pp. 254-269.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :