WEB UNTUK PARA PRAKTISI HUBUNGAN INTERNASIONAL di INDONESIA

JUST DO YOUR BEST and LET GOD DO THE REST

MOBILITAS PENDUDUK DALAM GLOBALISASI

diposting oleh pradipta-aditya-fisip12 pada 17 May 2014
di GLOBALISASI STRATEGI GANJIL 2013/2014 - 0 komentar

MOBILITAS PENDUDUK DALAM GLOBALISASI

PRADIPTA ADITYA SIAGIAN / 071211233021

 

Tidak dapat dipungkiri bila globalisasi telah merubah tatanan fokus sosial dunia. Jika pada umumnya pembahasan mengenai globalisasi selalu berkutat pada sisi ekonomi, fokus tersebut mulai berkembang dan mulai disisipkan nilai-nilai sosial di dalamnya. Salah satu fenomena yang tak kalah menarik pada lingkup sosial-kultural adalah bagaimana mobilitas penduduk dalam globalisasi terjalin. Dinamika perpindahan individu pada era globalisasi terjadi karena batasan-batasan antara satu negara dengan negara lain mulai kabur, sehingga tidak dapat dipungkiri bila perpindahan penduduk di dalam dan bahkan antar negara menjadi tak terelakkan lagi. Perpindahan penduduk yang bersifat domestik, seperti transmigrasi sampai pada perpindahan yang bersifat internasional seperti imigrasi, semua membawa berbagai dampak tersendiri. Negara pada dasarnya tetap menjadi entitas yang menaungi penduduk, namun perkembangan sistem ekonomi yang berdampak internasional dan transnasionalisasi (perusahaan) mengurangi peranan negara (Sassen 1998, 5). Perpindahan penduduk pada era globalisasi tidak dapat dikontrol secara penuh oleh negara karena perubahan struktur ekonomi yang membuat para pekerja (yang notabene juga penduduk suatu negara) dapat berpindah-pindah menurut keinginan perusahaan tempat individu tersebut bekerja. Penulis memahami pernyataan Sassen sebagai alasan utama mengapa terjadi sebuah arus perpindahan yang massif di dalam globalisasi, meskipun arus perpindahan tersebut tidak didominasi oleh alasan ekonomi.

 

Berbicara mengenai mobilitas penduduk dalam globalisasi, dapat terlihat jika perpindahan ini mengacu pada dua belah pihak. Perpindahan ini akan berdampak terhadap negara asal dan negara tujuan penduduk tersebut.  Dampak utama yang langsung dirasakan oleh negara adalah bagaimana peranan dan kekuatan negara sedikit bergeser oleh keberadaan perusahaan-perusahaan transnasional yang berada di dalam negara tersebut. “The displacement of governance functions away from the state to non-state entities affects the state’s capacity to control or keep controlling its borders and to exercise its power inside its borders” (Sassen 1998, 21). Kemunculan entitas non-negara tersebut membuat kapasitas control negara di dalam wilayah (dalam hal ini borders within regions) menjadi berkurang. Perusahaan memiliki hak untuk membuat regulasi-regulasi yang berlaku untuk internal perusahaan tersebut, dimana regulasi tersebut hanya berlaku pada individu yang bekerja pada perusahaan tersebut. Perpindahan yang diinginkan oleh perusahaan mau tidak mau juga harus dituruti oleh individu terkait.

 

Dampak negative dari regulasi yang dibentuk oleh perusahaan adalah bagaimana individu dapat dengan leluasa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Perusahaan dapat membiayai perpindahan individu tersebut, sehingga peranan negara untuk mengontrol pola perpindahan individu tersebut menjadi berkurang. Pekerja perusahaan bertransformasi menjadi objek perusahaan, dimana pekerja bertransfomrasi menjadi ‘modal’. Perpindahan modal (pekerja) “dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dari waktu ke waktu melalui pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh pekerja (melalui proses perpindahan tersebut” (Kelo & Wachter 2004, 17). Pelatihan yang dilakukan di luar negeri sebagai contoh, adalah upaya perusahaan untuk mempersiapkan jaringan pekerja mereka untuk dapat bersaing dengan dunia internasional. Penulis melihat adanya dampak positif yang dibawa oleh mobilitas penduduk dalam globalisasi, tetapi dampak tersebut praktis dinikmati oleh perusahaan yang memperkerjakan ‘penduduk-penduduk’ negara terkait. Bukankah proses pelatihan yang dinikmati oleh individu, pada dasarnya adalah biaya oleh perusahaan, dan dilakukan demi tujuan pencapaian keuntungan semaksimal mungkin oleh perusahaan terkait?

 

Realita perpindahan penduduk dalam globalisasi membawa satu fenomena unik, yakni brain drain. Fenomena ini dapat dipahami sebagai sebuah perpindahan yang terjadi pada suatu negara menuju negar lain yang menyediakan berbagai macam fasilitas, sehingga penduduk-penduduk yang memiliki kemampuan di negara asal, akan berpindah menuju negara tujuan yang baru. Fenomena ini membawa dampak yang merugikan bagi negara yang tidak mampu menyediakan fasilitas tersebut, karena putra-putri terbaik mereka memilih untuk berpindah ke tempat lain yang mampu menghargai kemampuan yang mereka miliki dengan standar yang lebih baik. Keberadaan perusahaan-perusahaan transnasional di dalam negara dapat dijadikan contoh bagaimana perpindahan modal manusia terampil dan terdidik ini terjadi di bawah naungan perusahaan, sehingga negara seakan tidak berdaya dalam menghadapi fenomena tersebut. “Investasi dan transfer pengetahuan baru” (Billstrom 2009) terbukti hanya terjadi pada tataran perusahaan, bukan pada tataran negara secara umum. Penulis melihat adanya kecenderungan fenomena brain drain dipicu oleh keberadaan globalisasi, dan fenomena ini relatif hanya membawa kerugian daripada keuntungan.

 

Prospek integrasi sosial di dalam mobilitas penduduk diyakini menjadi satu poin penting. Melihat adanya proses perpindahan yang massif tersebut, apakah proses integrasi dapat terjadi? Pada dasarnya, negara mengalami rekonfigurasi de facto ketika berhadapanan dengan isu transnasionalisasi dan perpindahan penduduk (Sassen 1998, 6). Negara terpaksa merubah konfigurasi kebijakan mereka terkait dengan perpindahan penduduk yang massif dan tidak dapat dikontrol oleh negara. Negara harus mampu membuat kebijakan-kebijakan yang tidak hanya meng-cover kebutuhan penduduk asli negara tersebut, tetapi juga para penduduk ‘pindahan’. Pembukaaan proses nasionalisasi dipandang sebagai langkah-langkah negara untuk menghadapi perpindahan penduduk dan di satu sisi berusaha mengupayakan proses integrasi, tetapi di sisi lain terkadang menimbulkan paradox.

 

Di satu sisi negara ingin membuka jalur nasionalisasi, tetapi di sisi lain penduduk ‘pindahan’ tersebut masih memiliki rasa nasionalisme terhadap negara asal mereka. Paradox lain terlihat dari bagaimana negara terkesan memberikan ruang bagi penduduk ‘pindahan’ tersebut, sementara penduduk asli tidak mendapatkan privilege yang sama, terlebih lagi penduduk ‘pindahan tersebut dibawa oleh perusahaan-perusahaan yang bernaung di dalam negara, bukan dibawa oleh negara. Belum lagi berbagai macam permasalahan lain yang terjadi, seperti penyebaran penyakit menular, imigran gelap yang masuk melalui batas antar negara, semuanya membawa dinamika tersendiri dalam permasalahan perpindahan penduduk dalam globalisasi.

 

Referensi:

Billstrom, Tobias. (2009). “Economic Migration: Brain Drain or Brain Gain?” (online) diambil pada 17 Mei 2014 dalam http://www.regeringen.se/sb/d/8065/a/123420

Kelo, Maria dan Wachter, Bernd. (2004). Brain Drain and Brain Gain, Migration in the European

Sassen, Saskia. (1998). “the De Facto Transnationalizing of Immigration Policy”, dalam Globalization and Its Discontents: Essays on The New Mobility of People and Money, New York: The New Press, pp. 5-30

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :